Tanah Kelahiran

Tanah Kelahiranku, Kota Sampang.
Sampang adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Sampang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pamekasan di timur, Selat Madura di selatan, serta Kabupaten Bangkalan di barat. Kabupaten Sampang terdiri atas 12 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Wilayahnya juga mencakup Pulau Kambing, yang berada di selatan Pulau Madura. Masakan khas kota ini adalah Kaldu.
Nah untuk kata yang terahir itu membuat tertarik. hmmmmm..... kapan yaa bisa mudik, jadi kepengin masakan ibu.
Sayang ayo kita rencanakan mudik, pulang ke kampung halaman.
Oleh-oleh Saat Pulang Kampung (My First Time)
ini adalah oleh-olehku saat pulang kampung beberapa tempo lalu dan sekaligus sebagai tulisan pertama di blog baruku. maklum agak kurang suka nulis :P , tulisansku ini saya kasih judul :
Tradisi Tahunan Kerapan Sapi Gubeng
Mulai Kehilangan Makna Filosofis, Ego Lebih Menonjol. Even bergengsi Kerapan Sapi Gubeng tiap tahunya memang sukses digelar. Hal itu tidak bisa hanya dilihat suatu sebagai tradisi tahunan belaka. Aktualisasi makna filosofis dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya perlu terus dilakukan. Mengapa begitu?
saat itu di Stadion R Soenarto Hadiwidjojo ribuan orang mendatangi stadion yang cukup lama tidak mengalami renovasi itu. Maklum, di sana sedang digelar perhelatan akbar Kerapan Sapi Gubeng. Suatu even bergengsi yang hanya digelar satu kali dalam setahun yang diikuti sapi kerapan dari empat kabupaten di Madura.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, even untuk memperebutkan Piala Presiden RI ini, melibatkan banyak pihak. Mulai dari Bakorwil IV Pemprov Jawa Timur sebagai "tuan rumah", Muspikab Pamekasan (Panitia Pelaksana tahun ini), termasuk juga sponsor seperti Dji Sam Soe. Karenanya, even "paripurna" kerapan sapi di Madura itu berlangsung sukses.
Meski demikian, di balik kesuksesannya, ada banyak hal yang mestinya mendapat perhatian. Khususnya, menyangkut makna filosofis yang terkandung dalam olahraga tradisional rakyat Madura tersebut.
Dulu, kerapan sapi merupakan identitas budaya masyarakat Madura. Seperti sikap kesatria, kejujuran, kewibawaan, dan kerja keras. Sebab, awal mula berkembangnya kerapan sapi dari tradisi masyarakat petani.
Riwayatnya, kerapan sapi berawal dari tradisi masyarakat petani ketika membajak sawah. Ketika itu, peralatan yang digunakan hanya Nanggala. Yaitu, suatu alat pembajak sawah dari kayu yang biasanya ditarik oleh sepasang sapi. Pada saat membajak sawah, kemudian menjadi kebiasaan saling berkejaran untuk menjadi yang terdepan.
Zaman pun berubah dan berkembang. Dari semula hanya kebanggaan untuk menjadi yang terdepan di "arena" sawah, akhirnya berubah tempat di arena sesungguhnya. Peralatan yang digunakan pun berubah. Dari semula menggunakan nanggala, berubah menggunakan Kaleles. Bedanya, kalau nanggala digunakan untuk membajak sawah, sedangkan Kaleles digunakan untuk tempat duduk "Joki" kerapan sapi.
Perubahan fungsi itu juga, rupanya diikuti dengan perubahan filossofisnya. Dari semula ingin menampilkan sikap kejujuran, kesatrian, kini mulai terkikis. "Sekarang hanya banyak yang ingin mencari menang. Makanya, egonya tinggi.
Hal tersebut cukup beralasan. Sebab, berdasarkan pantaua selama ini pada pelaksanaan kerapan sapi kemarin, terlihat para pengiring kerapan sapi yang mulai tampil egois. Setidaknya itu bisa dilihat dari lamanya pelaksanaan start lantaran masing-masing sapi kerap terus didorong agar lebih dulu Mancal alias mencuri start.
Sebagaimana diketahui, dalam sekali start, sedikitnya 10 orang mengiringi sapi di garis start. Banyaknya pengiring itulah yang membuat lamanya pelaksanaan start. Sebab, di antara sekian orang itu semuanya mendorong agar sapinya lekas Mancal. Padahal, di lain pihak, lawan belum siap. Akibatnya, pemegang bendera start cukup lama mendiamkan bendera sampai semua dalam posisi persis di garis start.
Agar tradisi kerapan sapi kembali kepada makna filosofi awalnya, semua pihak harus berpikir ulang tentang banyak hal. Diantaranya, panitia harus tegas terhadap pelanggaran dalam pelaksanaan kerapan. Selain itu, para pengiring sapi kerap juga semestinya mulai sadar diri akan makna kerapan sapi itu sendiri.
Eman kan, kerapan sapi yang tidak ada duanya di dunia ini. Yang ada cuma di sini Madura. Bagaimanapun, masyarakat Madura mesti berbangga dengan kerapan sapinya. Sebab, dalam kerapan kemarin, puluhan wisatawan mancanegara ikut menyaksikan. Hal itu setidaknya menjadi media untuk mengembangkan lebih jauh kerapan sapi menjadi wisata budaya yang bisa dilirik dunia luar.